Filantropi di Indonesia Kurang Aktif

OPINI.id

Centre for Asian Philanthropy and Society (CAPS) baru saja merilis Doing Good Index (DGI) 2018, sebuah riset yang mengukur faktor-faktor yang memungkinkan atau menghambat kegiatan filantropi di lima belas negara Asia termasuk Indonesia. Mau tahu kita ada di posisi berapa? Check this out!

Terendah Bareng Myanmar

Yup, Indonesia berada di kategori terendah yakni Not Doing Enough bersama dengan Myanmar. Sementara Jepang, Singapura dan Taiwan berada di kelompok tertinggi yaitu Doing Well. Saat ditemui di acara Filantropi Indonesia Festival (FIFest) 2018 di Jakarta Convention Center, Rabu (15/11/2018), Ruth A. Shapiro selaku Founder dan Chief Executive CAPS menuturkan alasan dan juga langkah – langkah yang harus dilakukan mengingat posisi Indonesia yang berada di peringkat terendah dalam riset ini. “Indonesia memiliki lebih dari 3000 lembaga dan yayasan non pemerintah di sektor sosial, tapi hal tersebut menunjukkan kinerja yang buruk pada indeks kami. Ada beberapa faktor penghambat yang membuat Indonesia masuk kategori Not Doing Enough,” ujarnya.

Lemahnya Regulasi

Sebenarnya, Indonesia punya peringkat tinggi ketika mengandalkan dukungan asing untuk kegiatan sosial. Sebanyak 66% dari organisasi-organisasi di Indonesia yang mengisi survei mengakui menerima dana asing untuk membiayai kegiatan sosial mereka. Meski begitu, “Regulasi yang tidak menyeluruh oleh pemerintah di tingkat daerah dan lokal telah membuat banyak organisasi nirlaba dan yayasan tidak memiliki akuntanbilitas dan transparansi kepada masyarakat yang akhirnya membuat kepercayaan publik berkurang,” kata Ruth. Makanya, pemerintah musti ngasih insentif di sektor pajak dan kebijakan fiskal sehingga bisa mendorong korporasi untuk semakin aktif menjalankan program corporate social responsibility (CSR) mereka.

Harus Ada Sinergi

Setelah regulasi dan insentif pajak serta kebijakan fiskal sudah dibenahi, langkah selanjutnya yang harus dilakukan ialah menciptakan ekosistem yang menyeluruh bagi seluruh pegiat sosial. Ekosistem ini meliputi setiap elemen di tataran kehidupan bernegara mulai dari individu (sukarelawan), perusahaan besar, hingga pemerintah yang diharapkan bisa bersinergi menentukan langkah dan tujuan bersama dalam menjalankan program sosial. “Dengan kebijakan yang tepat, investasi sosial dapat mengalir lebih banyak dan kolaborasi dapat lebih mudah diterapkan,” tandas Ruth.

 

To view this article on OPINI.id, click here.

Catalyzing Productive Livelihood

Asia Philanthropy Circle

Excerpts from the Foreword: Education in Indonesia is a large, complex, and diverse system. It is the fourth largest education system in the world, behind only China, India, and the United States, and has more than 50 million students, 2.6 million teachers, and 250,000 schools spread across an archipelago of more than 900 inhabited islands. Teaching all these people, young and old, the skills needed to succeed in Indonesia’s rapidly changing economy is a huge challenge. It is only natural that education is a priority for the Government of Indonesia.

The philanthropic sector engaged in strengthening Indonesia’s education system is extremely broad and includes multilateral institutions (such as USAID and the World Bank), social enterprises (such as Sokola), foundations (such as Tanoto Foundation and Djarum Foundation), education technology developers (such as Ruangguru), and corporate social responsibility programs.

While their engagement is welcome, philanthropists have raised concerns that these individual efforts alone may not be enough to create meaningful change in an education system as vast as Indonesia’s system. More can be achieved if key stakeholders coordinated their actions more closely and shared their experiences more often.

With this in mind, Asia Philanthropy Circle (APC) has developed this report. Its goal is to understand the current and future challenges facing Indonesia’s education system, to map existing initiatives and their impact, and to identify new opportunities for philanthropists to make a change for the better and to enhance their collaboration.

To read the report in summary or to download the report in Bahasa Indonesia, click here.